Sepulang dari acara peluncuran buku Remy Sylado, Kamus Bahasa dan Budaya Menado, terlintas dalam benak bahwa analogi paling tepat buat ‘jawara’ yang hari ini genap 63 tahun itu adalah “tua-tua keladi, makin tua makin menjadi”. Khusus dalam kasus Oom Remy, pepatah tersebut lebih mengarah ke konotasi positif. Ia masih tetap produktif berkarya, begitu luas minat serta talentanya. Polymath adalah istilah bagi pribadi yang serba bisa, Majalah Time pernah memasukkan Rabindranath Tagore dalam kategori ini. Japi Tambayong alias Remy Sylado amat sangat layak mendapat julukan serupa.
Konon Oom Remy bukan pengguna komputer. Ia masih setia menggunakan mesin ketik manual dalam berkarya. Konon pula, ada sekitar tujuh mesin ketik yang dipakainya secara simultan. Sepertinya ini adalah strategi seorang Remy Sylado dalam mengatasi writer’s block: musuh bebuyutan setiap penulis. Keputusan menggunakan mesin ketik di tengah era digital ini tentu menggelitik rasa ingin tahu. Menurutnya, mesin ketik memicu keluarnya ilham, justru karena alat itu sedemikian ‘jadul’nya. Saat ia salah memencet tuts dan menunggu cairan korektor mengering, proses kreatifnya terus berlangsung. Dan mungkin saja, jalan cerita berubah dari ide awal.
Saya masih mengetik proposal skripsi saya dengan mesin ketik manual meski akhirnya menyelesaikannya dengan mesin ketik elektronik. Pekerjaan sehari-hari kini mengharuskan saya memakai komputer dan lap top. Teknologi dapat dipastikan akan terus berkembang. Zaman akan semakin digital dan maya. Namun di sisi lain, kita juga kian rapuh. Pemadaman listrik bergilir belakangan ini, misalnya. Tidakkah kita akan ‘lumpuh’ tanpa generator? Dunia kita seakan berhenti berputar.
Saya memiliki ibu yang menolak belajar mengetik. Ia memilih untuk menyerahkan puisi-puisinya dalam tulisan tangan kepada saya untuk diketik. Sampai hari ini. Saya hormati pilihannya, dan juga pilihan Oom Remy. Boleh jadi itulah cara mereka menghayati setiap detik proses kreatif mereka masing-masing.
Terpikirkah oleh kita bahwa selembar print-out karya sastrawan ternama tidak akan bernilai di Balai Lelang Chritie’s atay Sotheby’s seabad sesudah kepergiannya? Bandingkan dengan coretan tulisan tangan para komposisi pemusik dunia yang berhasil dilelang dengan harga tinggi.